Tingginya frekwensi nongkrong bareng melahirkan sebuah ide yang perlu segera direalisasi tuk lepas penat yang meluber didalam kepala, konsepnya simple aja yaitu berdiwana mengunjungi tempat-tempat keren yang masih jarang dikunjungi khalayak ramai, lokasi baru biasanya selalu menyuguhkan hal baru dan sebenarnya itulah yang kami cari. Targetnya adalah refresing tuk melepas penat, olahraga & belajar survive di alam bebas. Berangkat dari kesamaan hobi yaitu berdiwana menyapa alam, sebuah komunitas kecil yang tak lain adalah sekelompok anak muda yang masih satu almamater ini siap menjejali sebuah tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya yaitu ”Lhok Keutapang”. Banyak alasan memilih lokasi tersebut, yang pertama kami belum pernah kesana namun pernah mendengar sekilas tentangnya. Dari informasi yang diperoleh pokoknya ini tempat keren abiz n’ nyaris tanpa cela, tentunya ini informasi dari orang2 yang pernah kesana yang notabene kesana emank bertujuan menikmati suasana baru, rekomendasi tersebut sangat relatif penilaiannya tergantung dari kacamata mana kita melihatnya. Bagi kami rekomendasi tersebut cukup menyulut semangat tuk segera tiba disana, malah imajinasiku terbang kemana-mana membayangkan tempat tersebut dan apa aja yang bakal dilakuin disana…gile gak tuch? Kemudian alasan kami karena jalur akses ke sana mengandung tipikal adventure abis, melewati jalan setapak dan membutuhkan waktu ± 2 jam jalan kaki naik turun gunung, otomatis target olahraganya bakal tercapai, mau gak mau harus olahraga !!! Bravo olahraga. Alasan terakhir karena sepertinya disana sangat ideal untuk melatih diri survive di alam bebas karena kami juga bakal nginap tapi tidak membawa tenda…klop dech…
Hari Jum’at, 25 April 2008, tepatnya setelah shalat Jum’at. Sebuah Tim terdiri dari aku sendiri (Wahed), Fatah, Salman, D’Jon, Joni & Junaidi, dengan pembekalan serba minimalis diiringi semangat yang menggebu kami awali langkah dari Banda Aceh (Lueng Bata). Menggunakan 3 sepeda motor kami tiba di Ujong Pancu tepat pukul 16.00 WIB (± 20 menit perjalanan).
Kebetulan dan sudah dikonfirmasi sebelumnya ada kawan dari Junaidi di Ujong Pancu, kami dibolehkan menitip sepeda motor disitu, aku rasa cukup aman tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi selama perjalanan kesana.
Tepat setelah shalat Ashar perjalanan dilanjutkan, bedanya tak lagi menggunakan energi BBM (Bahan Bakar Minyak) tapi menggunakan full energi tenaga manusia alias jalan kaki…nahh loe…jak lom…!!? Begitu memasuki jalan setapak atmosfir adventure langsung terasa, sepertinya jalan ini sangat jarang dilalui, di beberapa titik semak belukar sudah menutupi jalur, dengan menggunakan parang jalur kami bersihkan dan perjalanan kembali dilanjutkan. Untuk mencapai tujuan harus mengambil rute membelah punggung gunung (Gle Pancu, red). ½ perjalanan terus mendaki, selanjutnya penurunan sampai ke Pantai Lhok Keutapang yang berhadapan langsung ke Samudra Hindia dan beberapa pulau kecil.
Oke, kita kembali kejalur; Benar-benar olahraga celutuk Junaidi yang langsung di iya kan Alfatah, peluh mulai membasahi…membasahi apaan ya…? Auuu ahh…gelap…Sampai akhirnya kami tiba di “Reunyeun Batee” (bhs: Aceh) atau kalo diterjemahkan “tangga batu”, tempat kami berhenti sejenak tuk beristirahat. Siapa saja bakal tau kenapa tempat ini diberi nama “Reunyeun Batee” atau “tangga batu” karena tempat ini adalah susunan batu-batu dari berbagai ukuran yang tak beraturan tepatnya di sebuah penanjakan yang panjangnya ± 100m. Bentuknya tak murni seperti tangga, tapi fungsinya tak bisa dipungkiri adalah sebagai tangga untuk melanjutkan perjalanan menuju Pantai Lhok Keutapang. Dari Reunyeun Batee tampak pulau Raja dan Kota Banda Aceh, benar-benar view yang sangat indah, malah puncak Gunung Seulawah Agam juga tampak tunggal menjulang tinggi menusuk awan.

~ Pulau Raja ~
Perjalanan pun dilanjutkan, setelah ±30 menit berjalan kami pun tiba dipunggung gunung. Medan selanjutnya adalah penurunan, ternyata jalan terus-terusan di penurunan dengan beban tas ransel dipunggung juga tidak semudah yang dibayangkan, kaki dan bahu terasa sakit karena menahan beban, tapi itu semua tereliminasi oleh semangat dan rasa ingin tahu yang cukup besar, palagi dengar-dengar pada waktu tertentu ada penyu yang bertelur disana…alaaamak ingin segera aku tiba disana, besar harapanku bisa melihat penyu beraktifitas dihabitatnya walau sebentar, walau dari jarak yang sangat jauh karena aku tak ingin mengusik mereka.
Suara ombak sayup-sayup mulai terdengar tapi lautan belum juga tampak karena terhalang oleh kanopi hutan, kami semakin semangat, langkah yang tadinya mulai terasa berat kembali terpacu, gerak langkah semakin cepat. Imajinasiku kembali menghayal bagaimana wujudnya Pantai Lhok Keutapang, sebuah pantai pasir putih yang tak seramai seperti Lhoknga, Ule Lheu atau Ujong Batee. Otakku mulai berpikir yang aneh-aneh, aku membayangkan nyamannya saat-saat buang air tanpa harus risih ada yang ngintip…he..he..
…<intermezzo>. Oke, kembali ke jalur, karena suara ombak mulai terdengar kupikir tak lama lagi akan sampai, ternyata salah, perjalanan masih lumayan jauh atau mungkin karena aku gak sabaran pingin cepat-cepat nyampe. Ternyata emank benar, aku yang terlalu gak sabaran sehingga memberi efek jauh dan lama nyampenya. Dari celah-celah pohon aku melihat warna khas senja diatas Samudra Hindia,
~ View Lhok Keutapang ~
tampak juga pulau-pulau kecil yang cukup menawan dan suara ombak semakin terasa gemuruhnya. Seolah ingin berteriak…”Lhok Keutapang kami tlah datang”. Ternyata ada yang lebih gak sabaran, D’Jon menghilang, dasar k*mpr*t….
, ternyata tu anak tampak dari kejauhan sudah nyampe di pantai. Beberapa saat kemudian kami pun menyusul… Wow…benar-benar view yang sangat indah, pantai pasir putih menghampar luas dan banyak terumbu karang bertebaran dimana-mana, mungkin patah dan hancur oleh tsunami dan terbawa ke pantai. Tak terlihat ada sampah seperti di Lampu’uk, Ule Lheu atau Ujong Bate.
Karena hari tak lama lagi akan gelap, kami segera mencari tempat yang paling nyaman sebagai base camp. Pas banget ternyata ada gua kecil, tepatnya celah sebuah batu besar yang menghampar di dekat pantai, lumayan cukup menampung kami semua yang kebetulan gak bawa tenda, dengan beralas matras, kamar hotel VVIP ala kami siap dihuni…nahh loe belom pernah nginap di VVIP kan?
~ Kamar V V I P ala Lhok Keutapang ~
Tak lama kayu bakar sudah terkumpul cukup banyak, para koki andalan mulai beraksi menyiapkan makan malam, sembari menunggu menu makan malam siap disaji, coffemix panas cukup nikmat menemani. Melupakan sejenak rutinitas yang membosankan, meninggalkan kenyamanan rumah, tak ada TV, radio, computer, kami datang melepas penat yang meluber dikepala. Banyak hal yang didiskusikan malam itu, banyak topik yang mengalir, benar-benar malam yang panjang. Karena kecapaian kami makan cukup lahap pokoknya maknyus. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 01.00 WIB, satu persatu mulai tertidur merecharge energi tuk hari esok yang lebih dahsyat. Peace, SAVE penyu
.
